Monday, June 27, 2016

PERNIKAHAN: Potret Masyarakat Indonesia

Oleh: Pudji Tursana


http://www.suarakita.org/event/bincang-buku-menikah-sebuah-novel-bersama-jane-maryam/


“Jadi Mbak Jane, menurut Mbak secara pribadi, bagaimanakah menikah itu?”
“Menikah itu complicated, very complicated.”

Dari yang rumit itu, Jane Maryam dalam novelnya berjudul Menikah, dengan hati-hati memotret pernikahan di Indonesia. Ada lima kisah  dari para tokohnya, yang di akhir kisah saling berjumpa dan memiliki hubungan dalam berbagai peristiwa.
Kisah pernikahan yang berkelindan antara pernikahan tradisional dan modern mengawali novel ini. Lelaki sebagai kepala keluarga dengan kekuasaan yang besar dan perempuan sebagai istri yang aktif di ruang ekonomi dan bisnis. Dalam kisah itu diperlihatkan pula bagaimana absolutnya kekuasaan kepala keluarga, sehingga ia boleh membuat keputusan sepihak untuk membangun harem dengan melakukan poligami. Para istri tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan, karena memang poligami adalah sah dalam aturan para tokohnya (Islam).
Kisah kedua, seorang pekerja seks profesional yang memiliki pendapat sendiri tentang perkawinan dan otoritas atas tubuhnya. Ia bersikap kritis terhadap tawaran untuk menjadi istri kesekian dari seorang laki-laki.
Selanjutnya, kisah yang tampaknya cinta ideal insan antarbangsa. Satu hal yang menarik pada kisah ini, seolah nasib dan keberuntungan perempuan Indonesia akan lebih menjanjikan jika ia bersuamikan lelaki asing kulit putih. Sangat disadari bahwa masyarakat Indonesia masih mengalami post colonial syndrome. Sebuah kesadaran palsu, seolah segala hal yang berbau Eropa-Amerika atau asing akan lebih bagus, hebat, menjamin dan memberikan masa depan cerah.
Pada dua kisah selanjutnya, Jane Maryam mengambil langkah yang sangat genial dan berani dengan mengungkapkan relasi percintaan dan harapan untuk bisa menikah pada pasangan LGBT (Lesbian Gay Biseks dan Transgender/seks). Kisah relasi sepasang lesbian dan relasi antara laki-laki dan transgender.  
Novel diakhiri dengan kisah perjumpaan semua tokoh yang ternyata saling memiliki kisah bersama satu sama lain.
Menurut Renal Rinoza, yang hadir sebagai pembedah, novel Menikah satu karya sastra LGBT yang masih bisa dikembangkan dengan optimal, baik dalam tema maupun bentuknya. Layaknya karya sastra pascareformasi, novel ini mengangkat isu seksualitas dan tema LGBT disisipkan di dalamnya.
Perkawinan dengan pola dan nilai tradisional digugat pada novel ini. Ia mempertanyakan absolutisme dan cara seorang lelaki sebagai kepala keluarga memimpin keluarganya. Dipertanyakan, bagaimana bisa seorang laki-laki sebagai suami atau ayah dianggap paling mengetahui apa yang terbaik bagi hidup atau tubuh istri atau anak perempuan? Bagaimana sebuah keluarga tega ‘menjual’ anak perempuan mereka demi keberlangsungan hidup keluarga besar, syukur-syukur taraf hidup keluarga besar akan meningkat (naik kelas).
Novel ini memperlihatkan keberpihakan pada insan LGBT. Ada latar belakang kisah tokoh yang nampak tragis dan pesimis,  karena sang tokoh insan LGBT. Namun hal tersebut seolah batu penjuru yang justru memantapkan sang tokoh untuk terus maju dan berjuang memantapkan diri dalam kehidupan. Hal itu memberi kesan yang optimis dalam situasi yang pesimis. Pendekatan berkisah dengan cara ini sangat menarik. Kepada publik diperlihatkan keniscayaan insan LGBT dan disposisinya yang turut berkontribusi dalam kehidupan.
Aspek edukasi pun tak luput dari perhatian Jane Maryam sebagai novelis. Hal itu tampak dari upaya untuk menginformasikan berbagai nilai kemanusiaan yang universal.  Bagaimana cara seseorang sintas dari perundungan dan kekerasan yang dialami. Bagaimana relasi intim antarmanusia juga banyak tantangan terlepas dari orientasi seksual orang yang bersangkutan. Bagaimana relasi seksual dalam berbagai konteks jaman niscaya terkait oleh kekuasaan dan pandangan laki-laki yang misoginis. Dan bagaimana konsep seksualitas dipertarungkan antara seks sebagai cara untuk prokreasi dan seks sebagai cara untuk rekreasi.
Membaca novel ini, kita dihadapkan pada berbagai pola relasi antarkelas, dengan utamanya relasi pernikahan pada kelas menengah atas. Menikah adalah sebuah cara untuk kelas bawah naik kelas ke kelas menengah, kelas menengah naik kelas ke kelas atas. Atau antarkelas atas memantapkan diri dalam status quo kelasnya yang ‘di atas angin’. Pernikahan dianggap sebuah jalan untuk lepas dari kemiskinan. Namun tidak tertutup kemungkinan, insan yang merasa tertindas dalam sangkar emas akan berani keluar dari zona aman dan mendobrak kemapanan. Hal itu terjadi pada salah satu tokoh yang melepaskan diri dari status pernikahannya karena ia tidak ingin dimadu.
Para tokoh novel ini datang dari kelas pekerja menengah atas yang  berjuang untuk kebebasan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi dan materi. Mereka memiliki posisi tawar yang tinggi untuk menentukan cara hidup dan dengan siapa ingin menikah. Para tokoh ini membicarakan pernikahan dan menyikapinya dengan kritis. Setiap tokoh memiliki kesadaran dan pengetahuan yang realis bahwa cinta yang erotik (eros) dan emosional saja, tidak cukup untuk menjadi modal dalam menikah. Hal-hal lain yang mendukung dalam pernikahan adalah kekuatan ekonomi dan kemampuan mengelola relasi kuasa yang tumbuh dan berkembang di antara insan yang menikah.
Dalam konteks insan LGBT dan kelas pekerja, masih amat terbentang luas peluang yang inspiratif untuk mengembangkan sastra LGBT. Bagaimana situasi insan LGBT yang bekerja di pabrik? Bagaimana insan LGBT sebagai petani, nelayan, guru, dan lain-lain?
Kembali kepada Jane Maryam, novel Menikah telah memperlihatkan realitas sosial masyarakat Indonesia. Komplikasi yang ditangkap dengan cermat dan diwujudkan dalam kisah yang apik.[]

Tuesday, May 24, 2016

STONEWALL: Sebuah Tembok Batu Tempat Kita Berkaca

Oleh: Pudji Tursana


sumber: http://www.suarakita.org/event/nonton-bareng-film-stonewall/
Dalam rangka memperingati IDAHOT[1] 2016, Suara Kita[2] mengadakan acara nonton film Stonewall yang dilanjutkan dengan diskusi dan refleksi atas film tersebut. Stonewall, film tentang gerakan akar rumput untuk kesetaraan dan kebebasan kaum LGBTIQ[3] di Amerika Serikat pada sekitar awal tahun 1970-an.

Tuesday, December 15, 2015

Peluncuran dan Diskusi Antologi Cerpen "Para Penyintas dari Pamulang ke Papua"



Perempuan Berbagi bergotong-royong dengan 12 organisasi mahasiswa, komunitas musik, lukis, sastra dan penerbit indi di Kota Tangsel & Jakarta, menyelenggarakan kelas menulis dan menerbitkan antologi cerpen Para Penyintas: Dari Pamulang ke Papua.  Penerbitan buku ini bertujuan menyuarakan anak dan perempuan korban kekerasan dalam upaya membuka hati dan pikiran pembuat kebijakan (negara), kalangan budayawan, masyarakat dan keluarga untuk lebih memahami situasi korban kekerasan. Sehingga, negara dan masyarakat semakin tanggap memberikan dukungan dan perlindungan pada anak dan perempuan korban kekerasan.


Harapannya, upaya jalan sastra ini dapat saling memperkuat dengan advokasi kebijakan, upaya hukum, dan bidang lain yang sedang terus dijalankan oleh berbagai pihak.


Cerpen pada buku ini, sebagian besar ditulis oleh korban-penyintas dan pendamping korban. Sebagian sudah sintas, sebagian masih dalam proses perjuangan pemulihan hak-haknya. Enam dari 20 penulis dari kalangan sastrawan dan akademisi yang bersolidaritas pada pencegahan dan penanggulangan kekerasan.



Salam berbagi.

Monday, November 23, 2015

Amanat pasal 15 UU No 23 Tahun 2004: Kewajiban Masyarakat Mencegah dan Memberikan Perlindungan pada korban KDRT

Dewi Nova*

Dian Agusdiana bersama Bapak-bapak RT 02/06 Perumahan Reni Jaya, Pamulang, memberi masukan pertolongan pertama pada korban kekerasan (dok. Perempuan Berbagi)
Menengahi; memberikan perlindungan pada korban; memberikan pertolongan pertama atau membawa korban ke puskesmas terdekat; melapor ke polisi; menguatkan korban dengan memberikan dukungan mental pada korban. Itulah beberapa tindakan yang akan dilakukan ibu-ibu dan bapak-bapak bila terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungannya. Pendapat tersebut mereka sampaikan pada Pelatihan Lingkungan Ramah Perempuan dan Anak tahap II yang diselenggarakan Perempuan Berbagi dan PKK RT 02, RW 06 Perumahan Reni Jaya di Pamulang Barat (21/11/2015). Pelatihan ini bagian dari rangkaian aksi Kampanye 16 Hari Penuh Cinta (25 November - 10 Desember) di Kota Tangsel, Banten.

Thursday, November 19, 2015

Pahlawan Perempuan

Memeriksa Kontruksi Gelar Pahlawan 
 Oleh : Dewi Nova Wahyuni
Para pahlawan perempuan Indonesia
Lima hari sebelum peringatan hari pahlawan, Presiden Joko Widodo memberikan penghargaan kepada lima laki-laki –(alm) Bernard Wilhem Lapian, Mas Iman, Komjen Pol Moehammad Jasin, I Gusti Ngurah Made Agung dan Ki Bagus Hadikusumo. Kelimanya dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui keputusan presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2015. Pengukuhan gelar pahlawan itu menggenapkan jumlah pahlawan di Indonesia menjadi 168 (1959 – 2015). Pengukuhan tahun 2015 yang semuanya dianugrahkan pada warga laki-laki itu juga mengukuhkan semakin surutnya pemberian gelar pahlawan pada warga perempuan.

Mengenali Kekerasan Berbasis Gender di Lingkungan Terdekat

Oleh : Kaifin Prastyo
 
Pemberian Penjelasan Kekerasan terhadap Anak oleh Reka Agni Maharani (dok. Perempuan Berbagi)

Dalam rangkaian acara kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia—di kota Tangerang Selatan dikenal dengan 16 hari penuh cinta—yang diselenggarakan oleh komunitas Perempuan Berbagi dan didukung 9 organisasi: PKK RT 02/RW 06 perumahan Reni Jaya Pamulang, HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah, Indonesian Culture Academy (INCA), Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK), Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel, Sanggar Sarang Matahari, Penerbit Impressa, Onglam Book, dan Air Publisher, salah satunya mengadakan kelas pendampingan anak dan perempuan korban kekerasan yang diberikan kepada warga RT 02/RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang-Tangsel, Banten. Kelas pendampingan itu dilaksanakan melalui dengan 4 kali pertemuan di setiap hari sabtu—malam minggu—pada tanggal 14,21, dan 5 Desember dan kunjungan ke Puskesmas terdekat untuk belajar merujuk korban yang membutuhkan penanganan kesehatan. Selanjutnya sosialisasi persiapan praktik lingkungan ramah perempuan dilakukan melalui pentas seni pada 28 November 2015 di lokasi yang sama. Pentas seni yang juga memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia (25 November) ini akan melibatkan komunitas budaya di Tangsel dan acara terbuka untuk umum. 

Friday, November 13, 2015

Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan

sumber : 16 Days Women Unite Posters
Siaran Pers Jaringan Kerja 16 Hari Penuh Cinta
Agenda Kampanye 16 Hari Penuh Cinta Kota Tangsel, Banten
(25 November – 10 Desember 2015)
“Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan”
Kampanye 16 Hari Penuh Cinta merupakan pengembangan dari kampanye global 16 Hari Aktivisme Menentang Kekerasan Berbasis Gender. Kampanye dimulai dari 25 November --hari internasional anti kekerasan terhadap perempuan-- sampai 10 Desember --hari HAM sedunia (16 hari). Tanggal tersebut dipilih untuk menekankan bahwa kekerasan berbasis gender adalah pelanggaran hak asasi manusia. Periode 16-hari ini juga menyoroti tanggal penting lainnya yaitu 29 November hari Internasional Perempuan Pembela HAM dan 1 Desember, Hari AIDS Sedunia. Kampanye ini ditujukan untuk percepatan pencegahan dan penanggulangan penghapusan kekerasan berbasis gender melalui sebaran pengetahuan kepada publik dan sebanyak-ragamnya keterlibatan warga.
Di Kota Tangsel, agenda kali ini adalah kampanye yang ke-3. Kampanye pertama dilakukan Perempuan Berbagi melalui dialog publik “Menggagas Pemulihan Ekonomi untuk Perempuan Korban Kekerasan” (2012) dan kampanye ke-2 dialog publik “Laki-laki Penuh Cinta – menolak kekerasan tinjauan Katolik dan Islam” yang dikerjasamakan dengan 10 organisasi lintas agama Katolik – Islam, organisasi perempuan, akademisi dan komunitas sastra (2014). 

Kampanye tahun 2015 (ke-3) ini digotong-royongkan oleh 10 organisasi yaitu: organisasi kemanusiaan Perempuan Berbagi, PKK RT 02/ RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang, HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah, Indonesian Culture Academy (INCA), Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK), Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel, sanggar teater Sarang Matahari dan penerbit Impressa, Onglam Book dan Air Publisher yang selanjutnya disebut Jaringan Kerja 16 Hari Penuh Cinta.

“Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan” tema kampanye 2015. Tema kawani penyintas berangkat dari refleksi situasi kekerasan terhadap anak dan perempuan yang memburuk sepanjang tahun 2015. Sehingga gerakan pendampingan korban di akar rumput perlu terus ditumbuhkan. Disamping terus memantau kemajuan/kemunduran tanggung jawab negara dalam memenuhi hak korban atas pemulihan, kebenaran dan keadilan. Sedangkan tema tanam budaya menolak kekerasan terhadap Perempuan, refleksi atas belum memadainya upaya-upaya hukum dan politik untuk percepatan masyarakat tanpa kekerasan. Karena itu dibutuhkan penguatan gerakan menolak kekerasan melalui pelibatan lebih banyak para pegiat kebudayaan dan pendekatan budaya untuk mengkreasi masyarakat yang aman bagi anak dan perempuan. 

Berangkat dari dua persoalan tersebut, jaringan kerja cinta akan menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan publik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar tanggap dalam mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak dan perempuan. Baik tanggap melalui tindakan langsung mengawani atau mendampingi korban, maupun memberikan penyadaran masyarakat melalui jalan kebudayaan. Tiga kegiatan tersebut: 
  1.  Sosialisasi Agenda 16 Hari Penuh Cinta, 25 November – 10 Desember, melalui penyebaran liflet informasi TIPS MENGAWANI KORBAN –cara-cara mendampingi anak dan perempuan korban kekerasan. Liflet akan disebarkan kepada masyarakat pada pentas seni 28 November dan 12 Desember di Pamulang kota Tangsel, Banten. Dan penyebaran siaran pers ini kepada berbagai media.
  2. Sekolah Pendampingan Anak & Perempuan Korban Kekerasan, 14, 21, November dan 5 Desember yang diberikan kepada warga RT 02/ RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang Pamulang – Tangsel, Banten. Dengan puncak acara “Pentas Seni Peringatan Hari Internasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan” pada 28 November, 19 WIB - selesai di lokasi yang sama dan kunjungan membangun jaringan kerja pendampingan korban ke Puskesmas yang menjadi rujukan bagi warga setempat. Kegiatan ini sebagai upaya awal menumbuhkan “Rukun Tangga Ramah Anak & Perempuan.”
  3. Pentas Seni dan diskusi buku antologi cerpen Para Penyintas: dari Pamulang ke Papua, 12 Desember 15 - 18 WIB, di Saung Merdesa, Jalan Doktor Setiabudi No.38, Pamulang Barat, Banten 15471, Phone:(021) 93096872, Pamulang - Kota Tangsel, Banten. Acara ini menghadirkan monolog cerpen oleh Mahrus Prihany (KSI Tangsel) diiringi lukisan Yakub Kelana (Gerbang Indonesia), dan penampilan dari INCA & IMSAK, PKK Perumahan Reni Jaya dan Perempuan Pembela HAM. Sedangkan pembahas antara lain buku Shobir Poer, Ketua Dewan Kesenian Tangsel dan perwakilan Perempuan Pembela HAM. Buku yang akan dibahas adalah karya penyintas –korban kekerasan yang bertekad ke luar dari kekerasan—, para pendamping korban dan komunitas sastra di Tangsel, sebagai solidaritas dan tanggung jawab sosial sastra untuk kemanusiaan. Antologi itu hasil dari program Cerita untuk Bertindak, yaitu program gotong-royong yang dilaksanakan atas dasar suka rela dan dorongan moral untuk berkontribusi pada gerakan anti kekerasan. Program dimulai dari tahap kelas menulis cerita pendek, penerbitan hingga mendialogkan buku dengan publik dan negara.
Kegiatan kampanye 16 Hari Penuh Cinta ini terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran. Panitia Bersama mengundang sebanyak-banyaknya partisipasi media untuk mengabarkan dan meliput rangkaian kegiatan guna perluasan manfaat pada sebanyak-banyaknya masyarakat.
Informasi lebih lanjut hubungi:

Reka 081 291 655 611, untuk pentas seni 28 November (peringatan hari anti kekerasan terhadap perempuan)

Dewi Nova 081 310 600 257, untuk pentas seni dan diskusi buku 12 Desember 2015 (peringatan hari HAM)

Thursday, October 29, 2015

Dodolan

"dodolan" oleh : Didi Susana Kristi


Tak ada lelaki di samping kami dan hidup harus terus berjalan. Bahwa aku lahir, bukanlah sebuah kecelakaan, karena aku masih ada sampai sekarang. Siapa yang harus bertanggungjawab atas aku yang terlanjur lahir? Tentu diriku sendiri. Bukan dia, lelaki yang harusnya kusebut Ayah. Bukan pula Ibuku. Aku dan Ibu adalah bayi pada masanya masing-masing. Ketika salah satu dari kami menjadi bayi, saat itu pula salah satu lainnya harus menjaga, menemani bertahan hidup. Aku, telah meninggalkan masa orokku, melompat satu dua tiga bahkan lima tahun lebih dari usiaku semestinya. Aku harus lekas mendewasa, sebab perempuan disampingku ini akan tiba waktunya menjadi orok raksasa.


Sumbangan Karya untuk Hari Anak Perempuan Internasional 
Didi Susana Kristi.

Perempuan Di Atas Kertas

Oleh : Nuna

Untitled. Oleh : Reka Agni Maharani


Saya seorang anak perempuan di atas kertas. Setelah saya dibeli, saya dijadikan milik oleh ibu yang murah hati. Tertera di atas Akte Lahir nama saya  dan saya anak di luar nikah. Hanya sekedar identitas yang saya dapatkan. Bukan perhatian ataupun kasih sayang yang seharusnya diberikan orang tua kepada seorang anak.

Menyoal Hak Anak Perempuan



Oleh : Ernawati

Saya mempunyai tiga orang putri dengan usia dan karakter yang berbeda tetapi memiliki kesamaan, ingin sama didengar dan diperhatikan. Sehingga ketika salah seorang dari mereka sedang bercerita, yang dua lainnya akan menimpali dengan cerita masing-masing akibatnya mereka seperti berlomba untuk mendapat perhatian terlebih dahulu. Perbedaan usia tidak menjadikan mereka memiliki hak yang berbeda, hanya pengertian tentang kuantitas dari hak tersebut. Misalnya mengenai uang saku, bentuk hadiah maupun makanan, walaupun sebenarnya diberikan jumlah yang sama namun kakak tertua yang usianya sudah menginjak 20 tahun dengan berat badan berlebih sudah disarankan untuk mengurangi makanan tertentu dibanding adik-adiknya yang usianya terpaut jauh, 8 dan 10 tahun yang masih dalam masa pertumbuhan. Selain itu, hiburan, hobby dan kebutuhan pendidikan mendapat hak yang sama. Semuanya berlaku hal, apa yang lebih mereka suka dan apa yang terbaik buat mereka. Memenuhi hak anak perempuan tidak semudah membaca buku lalu menerapkan teori. Mereka adalah buku yang terus berkembang dan berubah sehingga saya harus terus mempelajari dan mengoreksi kesalahan dalam penerapannya.

Sunday, October 11, 2015

Tubuh

Puisi  Didi Susana Kristi

Dokumen Didi Susana Kristi 
Tubuh
: Hari Anak Perempuan Sedunia.

Tubuh ...
Padanya jiwa kita dipenjara.
Sedari balita, remaja, hingga dewasa,
kita terus dijaga, karena takut dimangsa

Tubuh ...
Ketika kita balita, tubuh kita menggemaskan.
Kelak saat dewasa, tubuh kita menjadi menggiurkan...
semuanya jelas, karena tubuh kita perempuan
Siapa saja boleh memangsa untuk kepuasan

Tubuh ...
Mengapa tubuhku harus perempuan? Hingga serupa panganan kemasan.
Ketika kepuasan telah terlampiaskan, tubuhku seperti sebuah sampah kemasan.
Boleh dibuang dengan cara amat sembarang
Dicacah, ditenggelamkan, dibuntal kasur lalu dipendam, dilipat, dilakban, lalu dibuang di lapangan.
Dan atau ... ditinggalkan begitu saja dalam kondisi setengah gila
Siapa pun dapat melakukannya
Tetangga, Ayah Tiri, Saudara Tiri, Paman, Bapak Guru, Bapak Dosen,
Tukang Ojek, Sopir Kopaja, Sopir Taksi, Pemimpin dan Pejabat Berdasi.
Bahkan kekasih yang teramat kita cintai.

Kepada para lelaki yang kami kasihi, kepada para Ayah yang kami cintai
Kami mencintai tubuh perempuan kami, seperti kami mencintaimu juga.
Maka, marilah saling menjaga, karena tubuh semestinya adalah tahta cinta.


11 Oktober 2015


Saturday, October 10, 2015

Melidungi Anak dari Kejahatan Seksual, Kewajiban Orang Dewasa



Oleh : Reka Agni Maharani
 
Sumber: http://dayofthegirlsummit.org/author/blogadmin/


Setiap anak memiliki impian tentang masa depan mereka. Impian akan kebahagiaan dan cita-cita setinggi langit yang akan diraihnya kelak ketika mereka beranjak dewasa. Namun, apa jadinya ketika para “predator” yang memiliki birahi tinggi serta pedofil berkeliaran dan siap sedia membunuh mimpi anak-anak, khususnya anak-anak negeri sendiri?

Tuesday, June 30, 2015

Jangan Diam!

Oleh : Evie Permata Sari
Pelaku Pelecehan Seksual, Kalibata City (sumber : dok. Pribadi)

Pagi itu, rasanya tidak pernah bermimpi akan mengalami kejadian yang sangat menggemparkan buat saya. Rabu, 24 Juni 2015, saya sedang janjian dengan seorang teman di Kalibata City untuk mengerjakan sebuah pekerjaan yang semestinya deadline dalam minggu ini. Bahan-bahan pekerjaan, notebook, sudah saya siapkan sejak malam untuk dibawa serta. Seperti biasa, saya selalu mengabarkan teman saya sebutlah Rina, ketika saya sudah turun dari stasiun kereta di Kalibata, agar dia bersiap ke bawah untuk menjemput saya, karena untuk menuju ke lantai atas harus menggunakan kartu access. Tepat pukul 9.30, saya sudah berada di depan koridor lift dan menelpon Rina untuk segera ke bawah. Pada saat yang sama, saya perhatikan juga ada seorang laki-laki dengan perawakan Arab yang berdiri dibelakang kiri saya berjarak ± 1 meter, sepertinya juga sedang menunggu seseorang. Situasi saat itu di koridor depan lift memang tidak ada siapa-siapa lagi kecuali laki-laki itu dan saya.

Saturday, June 27, 2015

Burung Hantu di Kebun Teh Nissa

Oleh : Dewi Nova Wahyuni

Terakhir kali aku melihat burung hantu, waktu berumur 12 tahun. Saat itu teman-teman satu grup pramuka memintaku menjadi pesakitan, sehingga aku berbaring di blankar yang terbuat dari tali dan tongkat. Di atas rumput jarum, di halaman sekolah, kurasakan sejuk ke tubuhku dan saat kubuka mata,  persis di hadapanku dinding aula. Di sela atapnya, kulihat burung hantu dengan tiga anaknya. Matanya bundar mengarah padaku seolah-olah memintaku merahasiakan temuanku. Setelah itu, lama aku melupakannya, hingga Teh Nissa membicarakan pentingnya kehadiran burung hantu di 7500 m2 lahan yang ia dan suaminya kembangkan menjadi pesantren ekologi.

Monday, June 15, 2015

Sumbangan Studi Agama untuk Perdamaian, Mungkinkah?

Oleh: Dewi Nova (Peserta Studi Agama dan Perdamaian ICRP 2015)

Mampukah kita meninggalkan semangat pembenaran atas nama agama ke pencarian sejati dekontruksi beragama yang mampu menjawab soal-soal kemanusiaan & kelestarian alam raya? 

Sunday, June 14, 2015

Tanggap Kekerasan Anak Secara Nyata, Bukan Viral Sosial Media



Oleh : Reka Agni Maharani
 
Sumber
Peribahasa "gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan terlihat" tidak sedikit terjadi di dunia nyata. Ketika kita bicara atau peduli kepada sesuatu yang jauh dari hadapan, tetapi yang didekat kita sendiri diabaikan bukanlah kisah klasik. Saat orang-orang peduli akan kasus Rohingya, tetapi ada tetangga sendiri mengalami kekerasan, apakah yang terdekat peduli? Kadang orang hanya sekadar sadar, tetapi tekad untuk membantu amatlah kecil.

Wednesday, April 22, 2015

Pengetahuan untuk Melawan Penindasan

Pikiran dan Strategi si Kuda Liar Kartini[1]
Oleh: Dewi Nova*
  
“Biarkan orang banyak itu bodoh, maka kekuasaan atas mereka ada di tangan kita! Kiranya demikianlah semboyan kebanyakan pembesar. Mereka tidak suka melihat orang-orang lain juga menginginkan pengetahuan dan kemajuan.[3]”

Thursday, April 16, 2015

Mengupas Seksualitas: Buku Mendasar di Situasi Genting


Oleh: Dewi Nova

Siang, 15 April 2015, ruang pertemuan Megawati Institut dipenuhi peserta bedah buku. Banyak yang mengenakan jilbab, hadir juga dari kalangan pastor.  Master of Ceremony yang berpakaian muslimah menyampaikan tujuan pertemuan untuk mendiskusikan buku “Mengupas Seksualitas Mengerti Arti, Fungsi, dan Problematika Seksual Manusia Era kita” karya yang ditulis Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A. Penulis seorang intelektual muslim,  yang menurut moderator Pendeta Steve Suleeman, Th.M  berani menyampaikan pemikirannya di masa kegelapan. Masa ke arah kecenderungan fundamentalisme agama.

Tuesday, April 14, 2015

Air Ketuban Tanah Air


(Solidaritas Tusuk Konde Merah Putih)
Oleh: Dewi Nova

Bapak Presiden Republik Indonesia 
Tanah air serupa air ketuban
anak-anak, perempuan dan laki-laki
bergantung minum pada gunung-gunung
gunung-gunung Pegununungan Kendeng

Padi dan ternak menyusu pada batu
batu-batu yang lahirkan air di gunung-gunung
gunung-gunung Pegunungan Kendeng

Bapak Presiden Republik Indonesia
Atas nama air ketuban ibu yang merawatmu 
atas kasih rahim bumi yang satu
yang padanya kita bergantung 
untuk hidup dan mati 

Bukalah jalan-jalan politik dagang berdaulat 
tutup segala kontrak karya
yang membuat kami mati di tanah air sendiri

Bapak Presiden Republik Indonesia
Salam manis buat air ketuban ibumu yang merawatmu 
hingga engkau kini berdiri di istana itu memimpin kami

Salam manis dari ibu-ibu Kendeng
yang berdiri tegak menjaga air ketuban bangsa Indonesia

  
Seberang Istana Negara, Jakarta, 9 April 2015   

#RembangMelawan
#DemiRembang







Saturday, March 28, 2015

Urgensi Pendokumentasian Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak



Oleh: Evie Permata Sari

Kebutuhan akan pendokumentasian kasus kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah kebutuhan bagi lembaga yang memberikan layanan pendampingan bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan atau pengada layanan berbasis komunitas. Selain untuk mengetahui jumlah kasus yang selama ini didampingi, juga dapat memberikan advokasi serta merencanakan bantuan dan intervensi pada kasus tersebut.