Oleh : Dewi Nova Wahyuni

Terakhir kali aku melihat burung hantu, waktu berumur 12 tahun. Saat itu teman-teman satu grup pramuka memintaku menjadi pesakitan, sehingga aku berbaring di blankar yang terbuat dari tali dan tongkat. Di atas rumput jarum, di halaman sekolah, kurasakan sejuk ke tubuhku dan saat kubuka mata, persis di hadapanku dinding aula. Di sela atapnya, kulihat burung hantu dengan tiga anaknya. Matanya bundar mengarah padaku seolah-olah memintaku merahasiakan temuanku. Setelah itu, lama aku melupakannya, hingga Teh Nissa membicarakan pentingnya kehadiran burung hantu di 7500 m2 lahan yang ia dan suaminya kembangkan menjadi pesantren ekologi.


