Thursday, November 19, 2015

Mengenali Kekerasan Berbasis Gender di Lingkungan Terdekat

Oleh : Kaifin Prastyo
 
Pemberian Penjelasan Kekerasan terhadap Anak oleh Reka Agni Maharani (dok. Perempuan Berbagi)

Dalam rangkaian acara kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia—di kota Tangerang Selatan dikenal dengan 16 hari penuh cinta—yang diselenggarakan oleh komunitas Perempuan Berbagi dan didukung 9 organisasi: PKK RT 02/RW 06 perumahan Reni Jaya Pamulang, HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah, Indonesian Culture Academy (INCA), Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK), Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel, Sanggar Sarang Matahari, Penerbit Impressa, Onglam Book, dan Air Publisher, salah satunya mengadakan kelas pendampingan anak dan perempuan korban kekerasan yang diberikan kepada warga RT 02/RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang-Tangsel, Banten. Kelas pendampingan itu dilaksanakan melalui dengan 4 kali pertemuan di setiap hari sabtu—malam minggu—pada tanggal 14,21, dan 5 Desember dan kunjungan ke Puskesmas terdekat untuk belajar merujuk korban yang membutuhkan penanganan kesehatan. Selanjutnya sosialisasi persiapan praktik lingkungan ramah perempuan dilakukan melalui pentas seni pada 28 November 2015 di lokasi yang sama. Pentas seni yang juga memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia (25 November) ini akan melibatkan komunitas budaya di Tangsel dan acara terbuka untuk umum. 

Friday, November 13, 2015

Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan

sumber : 16 Days Women Unite Posters
Siaran Pers Jaringan Kerja 16 Hari Penuh Cinta
Agenda Kampanye 16 Hari Penuh Cinta Kota Tangsel, Banten
(25 November – 10 Desember 2015)
“Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan”
Kampanye 16 Hari Penuh Cinta merupakan pengembangan dari kampanye global 16 Hari Aktivisme Menentang Kekerasan Berbasis Gender. Kampanye dimulai dari 25 November --hari internasional anti kekerasan terhadap perempuan-- sampai 10 Desember --hari HAM sedunia (16 hari). Tanggal tersebut dipilih untuk menekankan bahwa kekerasan berbasis gender adalah pelanggaran hak asasi manusia. Periode 16-hari ini juga menyoroti tanggal penting lainnya yaitu 29 November hari Internasional Perempuan Pembela HAM dan 1 Desember, Hari AIDS Sedunia. Kampanye ini ditujukan untuk percepatan pencegahan dan penanggulangan penghapusan kekerasan berbasis gender melalui sebaran pengetahuan kepada publik dan sebanyak-ragamnya keterlibatan warga.
Di Kota Tangsel, agenda kali ini adalah kampanye yang ke-3. Kampanye pertama dilakukan Perempuan Berbagi melalui dialog publik “Menggagas Pemulihan Ekonomi untuk Perempuan Korban Kekerasan” (2012) dan kampanye ke-2 dialog publik “Laki-laki Penuh Cinta – menolak kekerasan tinjauan Katolik dan Islam” yang dikerjasamakan dengan 10 organisasi lintas agama Katolik – Islam, organisasi perempuan, akademisi dan komunitas sastra (2014). 

Kampanye tahun 2015 (ke-3) ini digotong-royongkan oleh 10 organisasi yaitu: organisasi kemanusiaan Perempuan Berbagi, PKK RT 02/ RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang, HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi) Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah, Indonesian Culture Academy (INCA), Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK), Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel, sanggar teater Sarang Matahari dan penerbit Impressa, Onglam Book dan Air Publisher yang selanjutnya disebut Jaringan Kerja 16 Hari Penuh Cinta.

“Kawani Penyintas dan Tanam Budaya Menolak Kekerasan terhadap Perempuan” tema kampanye 2015. Tema kawani penyintas berangkat dari refleksi situasi kekerasan terhadap anak dan perempuan yang memburuk sepanjang tahun 2015. Sehingga gerakan pendampingan korban di akar rumput perlu terus ditumbuhkan. Disamping terus memantau kemajuan/kemunduran tanggung jawab negara dalam memenuhi hak korban atas pemulihan, kebenaran dan keadilan. Sedangkan tema tanam budaya menolak kekerasan terhadap Perempuan, refleksi atas belum memadainya upaya-upaya hukum dan politik untuk percepatan masyarakat tanpa kekerasan. Karena itu dibutuhkan penguatan gerakan menolak kekerasan melalui pelibatan lebih banyak para pegiat kebudayaan dan pendekatan budaya untuk mengkreasi masyarakat yang aman bagi anak dan perempuan. 

Berangkat dari dua persoalan tersebut, jaringan kerja cinta akan menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan publik untuk menggugah kesadaran masyarakat agar tanggap dalam mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak dan perempuan. Baik tanggap melalui tindakan langsung mengawani atau mendampingi korban, maupun memberikan penyadaran masyarakat melalui jalan kebudayaan. Tiga kegiatan tersebut: 
  1.  Sosialisasi Agenda 16 Hari Penuh Cinta, 25 November – 10 Desember, melalui penyebaran liflet informasi TIPS MENGAWANI KORBAN –cara-cara mendampingi anak dan perempuan korban kekerasan. Liflet akan disebarkan kepada masyarakat pada pentas seni 28 November dan 12 Desember di Pamulang kota Tangsel, Banten. Dan penyebaran siaran pers ini kepada berbagai media.
  2. Sekolah Pendampingan Anak & Perempuan Korban Kekerasan, 14, 21, November dan 5 Desember yang diberikan kepada warga RT 02/ RW 06 Perumahan Reni Jaya Pamulang Pamulang – Tangsel, Banten. Dengan puncak acara “Pentas Seni Peringatan Hari Internasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan” pada 28 November, 19 WIB - selesai di lokasi yang sama dan kunjungan membangun jaringan kerja pendampingan korban ke Puskesmas yang menjadi rujukan bagi warga setempat. Kegiatan ini sebagai upaya awal menumbuhkan “Rukun Tangga Ramah Anak & Perempuan.”
  3. Pentas Seni dan diskusi buku antologi cerpen Para Penyintas: dari Pamulang ke Papua, 12 Desember 15 - 18 WIB, di Saung Merdesa, Jalan Doktor Setiabudi No.38, Pamulang Barat, Banten 15471, Phone:(021) 93096872, Pamulang - Kota Tangsel, Banten. Acara ini menghadirkan monolog cerpen oleh Mahrus Prihany (KSI Tangsel) diiringi lukisan Yakub Kelana (Gerbang Indonesia), dan penampilan dari INCA & IMSAK, PKK Perumahan Reni Jaya dan Perempuan Pembela HAM. Sedangkan pembahas antara lain buku Shobir Poer, Ketua Dewan Kesenian Tangsel dan perwakilan Perempuan Pembela HAM. Buku yang akan dibahas adalah karya penyintas –korban kekerasan yang bertekad ke luar dari kekerasan—, para pendamping korban dan komunitas sastra di Tangsel, sebagai solidaritas dan tanggung jawab sosial sastra untuk kemanusiaan. Antologi itu hasil dari program Cerita untuk Bertindak, yaitu program gotong-royong yang dilaksanakan atas dasar suka rela dan dorongan moral untuk berkontribusi pada gerakan anti kekerasan. Program dimulai dari tahap kelas menulis cerita pendek, penerbitan hingga mendialogkan buku dengan publik dan negara.
Kegiatan kampanye 16 Hari Penuh Cinta ini terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran. Panitia Bersama mengundang sebanyak-banyaknya partisipasi media untuk mengabarkan dan meliput rangkaian kegiatan guna perluasan manfaat pada sebanyak-banyaknya masyarakat.
Informasi lebih lanjut hubungi:

Reka 081 291 655 611, untuk pentas seni 28 November (peringatan hari anti kekerasan terhadap perempuan)

Dewi Nova 081 310 600 257, untuk pentas seni dan diskusi buku 12 Desember 2015 (peringatan hari HAM)

Thursday, October 29, 2015

Dodolan

"dodolan" oleh : Didi Susana Kristi


Tak ada lelaki di samping kami dan hidup harus terus berjalan. Bahwa aku lahir, bukanlah sebuah kecelakaan, karena aku masih ada sampai sekarang. Siapa yang harus bertanggungjawab atas aku yang terlanjur lahir? Tentu diriku sendiri. Bukan dia, lelaki yang harusnya kusebut Ayah. Bukan pula Ibuku. Aku dan Ibu adalah bayi pada masanya masing-masing. Ketika salah satu dari kami menjadi bayi, saat itu pula salah satu lainnya harus menjaga, menemani bertahan hidup. Aku, telah meninggalkan masa orokku, melompat satu dua tiga bahkan lima tahun lebih dari usiaku semestinya. Aku harus lekas mendewasa, sebab perempuan disampingku ini akan tiba waktunya menjadi orok raksasa.


Sumbangan Karya untuk Hari Anak Perempuan Internasional 
Didi Susana Kristi.

Perempuan Di Atas Kertas

Oleh : Nuna

Untitled. Oleh : Reka Agni Maharani


Saya seorang anak perempuan di atas kertas. Setelah saya dibeli, saya dijadikan milik oleh ibu yang murah hati. Tertera di atas Akte Lahir nama saya  dan saya anak di luar nikah. Hanya sekedar identitas yang saya dapatkan. Bukan perhatian ataupun kasih sayang yang seharusnya diberikan orang tua kepada seorang anak.

Menyoal Hak Anak Perempuan



Oleh : Ernawati

Saya mempunyai tiga orang putri dengan usia dan karakter yang berbeda tetapi memiliki kesamaan, ingin sama didengar dan diperhatikan. Sehingga ketika salah seorang dari mereka sedang bercerita, yang dua lainnya akan menimpali dengan cerita masing-masing akibatnya mereka seperti berlomba untuk mendapat perhatian terlebih dahulu. Perbedaan usia tidak menjadikan mereka memiliki hak yang berbeda, hanya pengertian tentang kuantitas dari hak tersebut. Misalnya mengenai uang saku, bentuk hadiah maupun makanan, walaupun sebenarnya diberikan jumlah yang sama namun kakak tertua yang usianya sudah menginjak 20 tahun dengan berat badan berlebih sudah disarankan untuk mengurangi makanan tertentu dibanding adik-adiknya yang usianya terpaut jauh, 8 dan 10 tahun yang masih dalam masa pertumbuhan. Selain itu, hiburan, hobby dan kebutuhan pendidikan mendapat hak yang sama. Semuanya berlaku hal, apa yang lebih mereka suka dan apa yang terbaik buat mereka. Memenuhi hak anak perempuan tidak semudah membaca buku lalu menerapkan teori. Mereka adalah buku yang terus berkembang dan berubah sehingga saya harus terus mempelajari dan mengoreksi kesalahan dalam penerapannya.